Oleh Norashikin Azmi
Ilustrasi Muizzah
aku selalu menyangka kehilangan berbentuk kosong, rupa-rupanya ia membukit pada dua batas tanah; rumput liar menjalar di dadanya, kemboja gugur di sisinya dan dua nama terkunci diam di pangkalnya.
pagi tadi aku bertandang membawa sebotol air dan sekantung kenangan; air habis kusiram, kenangan kekal— penuh dalam ingatan.
seluruh hayat, kalian mengajar aku mengenal dunia:
A-B-C sebelum lancar membaca, alif-ba-ta sebelum fasih mengaji; terima kasih untuk setiap pemberian, tolong untuk setiap keperluan, maaf untuk setiap kesalahan, syukur untuk setiap kecukupan, jatuh tanpa menyerah, memberi tanpa menghitung dan pergi tanpa lupa jalan pulang.
begitu banyak pelajaran kalian bekalkan, cuma satu tidak sempat kalian ajarkan — bagaimana menjadi anak apabila panggilan mak dan ayah tidak lagi bersahut.
kematian mengubah tatabahasa kita: sekarang tinggal aku dan kalian; dahulu pulang bererti kembali ke pangkuan, sekarang bermaksud meninggalkan kalian sekali lagi di taman.
di sini segala yang bernyawa belajar bahasa kematian:
rumput meninggi mengukur usia/kemboja luruh menghitung hari/dua nama menghafal sepi yang panjang
tapi tak seinci pun menjauh dari palung batin
meski jauh ku beredar langkah







