Oleh Syafiq Setiawan
Ilustrasi Muizzah
Laci gelap itu kuhuni diam,
dengan habuk kupakai.
Kau belum lagi memanggil aku;
selagi lampu kalimantang
masih setia
menyuap matamu dengan cahaya.
Tanganmu datang meraba-raba,
menarik aku dari laci itu;
tempat yang terlanjur
kupanggil rumah.
Kau bakar kepalaku,
dari sumbu
yang belajar menghitung maut.
Tubuhku mencair pasrah,
membeku kaku di bucu katilmu.
Kau lena,
berselimutkan cahayaku.







