Oleh Muhaimin Subki
Ilustrasi Muizzah
(i)
kata-katamu tidak lagi terbit
setelah mentari terbenam pada Jun yang kelabu
dan aku, sarat, mendarat pulang
membawa bulan yang terurai menjadi debu
“Apa khabar, bunga ungu?
Masihkah hidup sempat mekar
meski terpisah hukum kalbu?”
(ii)
kuingat pudar kudup indah wajahmu—
pelupuk sinar pagi, harum angin baru;
kubacakan kepada malam
kisah kita yang kuhimpun pada secarik waktu—
senaskhah pelangi
dengan rangkai halus bunga layu
untukmu, kutabur abu rindu di pusara puisi
agar tumbuh lagi sejambak bunga di atas lemarimu—
sebuah ingatan kecil
yang kau nikmati indahnya
saat ia mengalah kepada waktu;
saat musim merapuhkan kenangan,
saat kelopak itu meluruh lembut
satu per satu
ke telapak tanganku.
(iii)
dan kupunya hanya itu tentangmu—
yang tertinggal untuk kukenang
di hari-hari sukarku
(iv)
sampai hujung mana pun
kugenggam kelopak rapuh atas namamu,
dalam diam, dalam restu,
sebelum pergi
menghimpun abadi.







