Oleh Mohd Noor Asa'a
Ilustrasi Muizzah
di tubuh negara
retak merambat dari tulang waktu
kau sisipkan
pada angka yang telah genap
degupnya enggan menjadi sejarah
yang membatu di dahi kitab
di bilik sempit bernafas kapur
suaramu membengkokkan garis peta
huruf-huruf luruh dari ejaan yang patuh
gugur dari lidah yang terlalu lurus
di mata anak
geser tanpa bunyi
menghanguskan peta lama
tanpa nyala
negara bernafas di antara tanda tanya
cahaya telah belajar mencurigai arah
kerongkong pun menyimpan kata yang tertahan
dan nama-nama luruh seperti hafalan
yang pulang tanpa rumah.







