Oleh Sarah Ross
Ilustrasi Muizzah
sejak ia menjernihkan pandangan
dapat kulihat
sekuntum mekar bunga
yang kuserikan di pintu doa setiap pagi
hancur diinjak sepatu anakku
yang pulang menggendong keangkuhan
pelita semangat yang kunyalakan
menemani ketekunannya saban malam
berubah malap, di kamar waktu
gebar kasih yang selalu menyamankan
mimpi-mimpi indahnya
telah menjadi kapan
di kuburan kenangan
maka, sejak itulah
cermin mata ini sengaja kupecahkan
agar yang telah remuk berderai
tidak anakku tahu
Bukit Katil







