Oleh N Faizal Ghazali
Ilustrasi Muizzah
Lelaki kurus itu tiba di parkir rumah seorang sasterawan
dadanya berdebar mahu menemu bual
dia memberi salam
si tua itu menyambut, di tangan kanannya sebilah parang
usai menebas sajak-sajak meliar rimbun
di antara semak-samun.
Pak, izinkan saya bertanyakan beberapa soalan, kata si wartawan muda.
mata parang langsung menyahut;
sajak-sajak sudah botak
sasterawan tidak lagi meniup semangat kebangsaan
seniman ditindas kecerdasan buatan.
Ya saudara silakan soalannya jika sesuai kuhujahkan, kata sasterawan.
ulu parang langsung menyampuk;
Pak, tidakkah kita usai menebas sajak?
apa yang tinggal siap menjadi buku
dibaca sekali, dibiarkan berkali-kali
maaf kerana melukakan.
Pak, apa lagi perlu diperjuang para penyair dan seniman zaman sekarang? soal wartawan.
Begini orang muda, mereka sendiri tahu jawapannya
kau pulang saja, esok kukirimkan selembar puisi
paling indah, tak pernah tertuliskan
setiap rangkap ada jawapan
dan penyair akan berhenti memuji diri sendiri.
mata parang pun bersinar mengiring wartawan pulang.







