Oleh Shafiq Said
Ilustrasi Muizzah
demikian kehancuran demi
kehancuran
tidak lagi kenal kesembuhan
kau jemput para penguasa
dari tiap penjuru wilayah
ke dewan agungmu
kaulimpahi meja dengan
segenap benua santapan
kesedapan demi kesedapan
janji demi janji perdagangan
maka terbuka gudang-gudang
kemewahan
“inilah noktah pemula
mengakhiri sengketa lama,”
pidatomu membusung kekenyangan
saat terbuai dalam lipatganda
kekuasaan, bersilang jabat tangan
dan dakap utuh sebuah perikatan –
kaupangkas kepala-kepala mereka
runtuh satu demi satu, hari ini!
mimbar sejarah telah mengenal namamu
berhamburlah rahsia dan dendam
sekian lamanya
membasahi marmar peristiwa
dewan agungmu bergaun merah
merah
yang menghitamkan halaman
sunyi yang kau idami
mendiami takhta sekali lagi
hanya kau yang masih berdiri
menyarung bilahmu kembali
yang menyusup keluar antara
lantai dan gerbang kerajaanmu
adalah bangar berita menghingar
dalam kawanan dubuk dan nasar
gawat dendam baharu telah
kauturunkan kepada anak cucu.
Kem Mahkota
Kluang







